Home Perjalanan Karya Seni Yayoi Kusama di Jakarta

Karya Seni Yayoi Kusama di Jakarta

319
2
SHARE
ARTICLE TOP AD

Hallo, teman jalan-jalan!

Rasanya sangat lama tak bercerita. Kali ini, mari temani saya mengulas liburan singkat yang disempatkan sekitar 3 bulan lalu. Memang lawas kiranya, tapi saya selalu ingat momentum ini, sayang kalau tak tertuang ehehe. Mungkin sedikit banyak teman jalan-jalan tau tentang pameran seniman Jepang, Yayoi Kusama. Betul! Pameran pertamanya yang digelar di Indonesia. Tepatnya di Museum MACAN a.k.a Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Siapa yang belum tau? Alamatnya di AKR Tower level MM, Jalan Perjuangan No. 5 RT/RW. 11/10 Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta, 11530 (google.com). Just check it out!

Pameran yang mengusung tema unik bernuansa titik, garis, serta bentuk-bentuk seperti polkadot dengan warna-warna mempesona, memanjakan mata para pengunjung yang hadir dalam pameran yang dibuka untuk umum sejak 12 Mei sampai 9 September 2018 itu. Mungkin teman jalan-jalan sedikit banyak tidak sempat untuk mengunjunginya. Atau bahkan memilih untuk tak mengunjunginya. Ya, itu pilihan. Akupun berkunjung di waktu-waktu terakhir pergelaran pameran tersebut.

Pikirku, ah tak akan sempat. Atau, ah terlalu dan selalu ramai. Tapi dengan nekat, ku sisakan saja waktuku bersama dia yang selalu punya waktu untukku. Ku scroll lagi galeri foto di handphone-ku, tertera beberapa foto kenangan bersama karya Yayoi Kusama pada tanggal 2 September 2018, tepat seminggu sebelum pameran ditutup. Benar saja, sampai seminggu sebelum tutup pun pengunjung tetap dan masih membludak. Alhasil tak banyak foto hasil jepretan karyanya dapat ku abadikan, kali ini benar-benar seperti kata brand musik ternama era 2000-an; tak ada yang abadi. Ehehe sempat-sempatnya membual.

Hari itu, kami berangkat sekitar pukul 12.00, saat matahari sedang gagah-gagahnya. Perjalanan dari Bintaro ke Kebon Jeruk memakan waktu cukup singkat sekitar 30 sampai 60 menit. Karena kebetulan saat itu adalah hari minggu, jadi wajar memang kalau jalanan cukup padat dan ramai. Sesampainya di AKR Tower, kami memarkirkan kendaraan dan langsung menuju Museum MACAN menggunakan lift. Aksen dalam lift-nya saja sudah menggugah jiwa seni kami. Sebuah kebetulan lagi, karena saya merupakan penikmat seni, dan dia pun bisa dibilang sebagai penyaji seni sepertinya cocok ya, ehehe semoga saja. Kami cukup penasaran melihat rupa-rupa karya seorang Yayoi Kusama. Tak cukup bila hanya menikmatinya melalui akun instagram Museum dan para pengunjung, pikir kami.

MasyaAllah, gorgeous!” sontak mataku melihat hamparan manusia mengantre [antre; ini yang benar menurut KBBI ya, guys, yuk belajar bahasa Indonesia!] di loket pembelian tiket masuk pameran seni. Ups salah! Ehehe ku kira sudah memasuki area pameran. Memang terlihat cukup panjang antrean yang ada, mulai dari pengunjung domestik sampai ke pengunjung mancanegara. Wuih pikirku ramai sekali ya, mungkin di Negara mereka tak ada pameran karya Yayoi Kusama. Satu lagi yang kuherankan adalah sampai orang Jepang pun ikut berkunjung, kan tidak mungkin Yayoi Kusama tidak menggelar pameran di Negara kelahirannya.

Kebetulan, saat itu sedang berlangsung pergelaran kompetisi olahraga besar-besaran se-Asia yaitu ASIAN GAMES 2018 yang kala itu berlokasi di Jakarta dan Palembang. Pantas saja banyak pengunjung dari penjuru dunia, ibarat “sambil menyelam minum air” lah ya hihihi. Sontak, ku lihat ternyata para atlet Jepang juga turut meramaikan museum. Bangga sekali mungkin pikir mereka. Masih dalam antrean, hingga tiba giliran kami, ternyata tiket masuk di waktu kami sampai sudah habis terjual. Jadilah kami menunggu sesi masuk selanjutnya, cukup sore, yaitu setelah pukul 16.00 WIB. Harga tiket masuk saat itu sekitar IDR 100,000 that worth enough.

Tak lama tiket sudah di genggaman, kami memasuki area terluar dari ruang pameran. “MasyaAllah, gorgeous!” sontak mataku melihat hamparan karya seni bergeletak di lantai gedung tinggi itu bersama pantulan cahaya matahari dari luar gedung melalui dinding kaca. Nah ini baru benar ehehe. Di area luar, dapat kami lihat banyak orang berlalu-lalang menikmati secuil dari keseluruhan karya seni Yayoi Kusama. Meskipun hanya dari luar, cukup banyak yang bisa dipandang. Terpampang nyata betapa besarnya bola-bola cerah berpolkadot. Terdapat pula beberapa spot, yaitu sejarah kehidupan dan karir seniman Jepang tersebut. Dalam sebidang dinding, dijelaskan secara singkat bersamaan dengan foto-foto masa perjuangan dan kejayaan Yayoi Kusama bagaimana perjalanan seninya. Sungguh menarik, ternyata tak mudah mendalami bidang seni dengan tema unik seperti ini. Yayoi pun sempat depresi, dan hampir saja mengakhiri hobinya ini, namun ia tetap bangkit kembali. Hingga kini, hingga menjadi seniman tersohor.

Selain itu, terdapat spot seperti mini cafe dimana para pengunjung dapat singgah menunggu waktu masuknya tiba. Bukan hanya kami, banyak pengunjung lain yang rela menunggu gilirannya tiba dengan duduk-duduk bersantai di tengah keramaian. Selain itu, terdapat pula booth penitipan barang, karena seperti pada umumnya peraturan museum, di sini juga tak diperkenankan membawa sejumlah jenis barang, termasuk kamera *hiks. Jadilah, kami hanya sedikit mengabadikannya melalui kamera handphone. Di lain sisi, terdapat pula booth penjualan merchandise karya seni Yayoi Kusama.

Sembari menunggu, banyak hal yang dapat dilakukan. Contohnya, kami, duduk-duduk, mengobrol sampai drama diam-mendiami *ssshh wkwkwk, nge-meal gemas, bahkan kami sempatkan untuk ibadah sholat ashar terlebih dahulu karena memang waktu tunggu yang menurut kami sangat lama. Sebelum akhirnya masuk, kami sempat menjelajahi semua ruang yang ada di luar. Terdapat pula ruang khusus anak, yang pastinya harus dalam dampingan orang tuanya. Sayang, kami tak bisa masuk untuk sekedar melihat-lihat kegiatan seru di dalamnya. Sempat berharap ingin punya anak saja, atau culik anak orang lain saja *ups tidak boleh ya!

[SAATNYA MASUK]

Begitu antusiasnya kami, langsung saja kami masuki ruang pamerannya. Langkah pertama, teman jalan-jalan akan melihat hamparan bola alumunium yang tergeletak memancarkan bayangan benda dihadapannya. Sangat banyak dan berkilauan menggambarkan kesan dan aksen robotic. Selanjutnya, banyak terdapat lukisan-lukisan abstrak ber-tone warna satu dan senada. Kemudian di tengah ruangan terdapat patung dengan bentuk unik dengan warna cerah menyala dibaluri banyak titik. Benar-benar unik dan out of the box!

Tak sampai di situ, di ruang selanjutnya terdapat lebih banyak lagi lukisan dan patung-patung unik. Kali ini aksennya sangat penuh warna. Seperti tema yang diangkat yaitu “Life is the heart of a rainbow”. Ruang itu benar-benar dipenuhi tabrakan warna yang sangat indah dan memukau mata siapapun yang melihatnya. Rasanya tak ingin pulang. Rasanya ingin pindahkan ini semua ke rumah. Sangat fresh dan membuat semangat ini membuncah kemana-mana. Benar-benar bahagia dan menyenangkan. Sementara kaki ini terus melangkah mencari kejutan selanjutnya, di antara ruangan demi ruangan terdapat spot foto berupa tabung-tabung kaca dengan aksen lampu-lampu berwarna-warni. Niat berfotoku seketika sirna karena melihat antrean yang panjang. Hari semakin sore dan aku tak mau menyia-nyiakan waktuku menunggu sedangkan bisa saja kami tak dapat menyelesaikan trip ini.

Di ruang berikutnya, yang ku lihat hanya black and white. Kesan yang sangat kental dengan monokrom, old retro, sempat membingungkan mata ini. Tipuan macam apa ini? Apakah benar se-random ini? Tak sangka, benar-benar tak menyangka. Seperti bertolak belakang dengan tema yang sebelumnya, karya-karya ini menenangkan dan menetralkan hati yang begitu bahagia. Tak kecewa, sama sekali tak kecewa, karena sungguh itu saja sangat memukau. Lalu, terdapat ruang dengan layar besar yang menayangkan video liputan karya-karya Yayoi Kusama bersama pesan-pesannya untuk para penggemarnya dan penikmat seninya.

Spot terakhir, yaitu ruangan di dalam ruangan. Berisi cermin yang mengelilingi dan lampu-lampu warna-warni membuat tempat itu semakin instagramable dan photogenic. Lagi-lagi ku skip karena antrean yang panjang dan memakan terlalu banyak waktu. Tersapu habis semua karya seni dalam satu lantai. Naik ke lantai yang kedua, terdapat satu ruangan besar yang menjadi tujuan paling ramai, paling iconic, dan ditunggu dalam antrean panjang. Karena ini tujuan terakhir, kami putuskan untuk mengantre dan ikut berfoto di dalamnya. The last but not least, ruang berdasar putih dengan tempelan stiker bulat berwarna-warni memenuhinya. Kami hanya diberikan waktu 5 menit untuk bebas berfoto dan meng-explore ruangan tersebut. Jika dilihat di posting-an instagram orang lain kok sepertinya keren, tapi saat dirasakan sendiri ternyata biasa saja, hanya unik dan benar-benar unik!

Ya, akhirnya selesai sudah museum trip kali ini. Kesannya hanya unik dan benar-benar unik. Langka dan benar-benar langka. Awesome! Lalu pesannya, semoga di Indonesia, terlebih di Jakarta banyak berdatangan lagi karya seni yang begitu mengagumkan. Bukan hanya dari mancanegara atau seniman luar Negeri, namun diharapkan karya seni itu lahir dari darah dan tanah air yang sama dengan kami sebagai penikmatnya.

Karya seni itu abadi, dan tak akan mati.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here