Home Perjalanan Like a Dream at Dago Dream Park

Like a Dream at Dago Dream Park

303
0
SHARE
ARTICLE TOP AD

Penat dengan suasana perkantoran, mata yang terus menatap layar komputer, jari-jari yang tak hentinya mengetik dan memanjakan dokumen-dokumen pengguna jasa. Syukurlah kantor kami bukan kantor dengan tipe yang menyediakan pelayanan 24/7. Mungkin ada unit-unit tertentu yang memiliki tugas dan fungsi pengawasan yang tentunya non-stop 24/7, syukurnya lagi aku tidak di dalamnya. Penuh syukur memang, tapi bagiku, bahkan dengan 2 hari libur di akhir pekan pun ku  masih tidak leluasa menikmati day off-ku itu. Memang benar juga kalau manusia tidak ada puasnya ehehe tentu ku menyadarinya.

Tapi tak ingin menuntut lebih, ku nikmati saja waktu-waktu singkat itu. Cukup bahagia bisa pulang ke rumah dan berbaring tenang menonton siaran kartun favoritku, ditambah lagi jika samamu *eh wkwkwk. Terlepas dari dengan siapa menghabiskan waktu, kemana harus menghabiskan waktu juga merupakan salah satu spot yang penting. Tentu tak mau sia-sia kan jika masih diberi kesempatan? Akupun jua.

Kali ini, lagi-lagi tentang liburan singkatku. Tapi bukan untuk menghadiri undangan tentunya. Benar-benar terjadi karena sebuah rencana, yang hampir batal juga sebenarnya wkwkwk. Namanya manusia hanya bias berencana, bukan? Sisanya, ketentuan dan keputusan tetap di genggaman Sang Pencipta, Sang Maha Pengabul Doa dan Rencana.

So, let’s begin.  Ku mulai ini di pertengahan bulanku, Agustus. Terpelatuk akan merahnya deretan angka di kalenderku, kemudian ku cek aplikasi bantuan wisata di smartphone-ku. Nihil, ternyata ku sudah terlambat, didahului para pencari tiket wisata untuk menghabisi long weekend. Rencanaku menghabisi hari libur 17-an dalam 3 hari di luar kota gagal sudah. Ditambah lagi dengan kewajiban menghadiri Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan Republik tercinta ini di halaman Kantor.

Tak habis akal, tiket perjalanan pulang-pergi di hari Sabtu masih tersisa. Langsung saja ku pesan tanpa berfikir panjang [rencananya sih seperti ini]. Kenyataannya, dia-ku sudah mempersiapkan trip ini dari berhari-hari lalu, dan tiketnya tentu telah terpesan. Ahaha termengerti memang!

Sabtu, 18 Agustus 2018 sekitar pukul 05.00 kereta kami berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta menuju Kota Kembang, Bandung. Keberangkatan itu membuat kami harus meninggalkan rumah sejak pukul 03.00 pagi. Perjuangan membuka mata dan membangunkan badan memang benar berat adanya. Belum lagi matanya dan badannya. Tapi demi liburan yang hakiki, angin malam, jalanan gelap, dari Tangerang menuju Jakarta kami tempuh. Bersama mata yang sayup-sayup, kami tiba di Stasiun Gambir dengan semrawut karena angin yang bertiup.

Di Stasiun, kami menunggu datangnya kereta. Setibanya, layaknya penumpang baru, sebut saja newbie, kami kebingungan mencari gerbong. Padahal si mas bukan sering lagi menggunakan transportasi Kereta Api. Atau mungkin grogi karena bersamaku wkwkwk. Setelah bolak-balik, tak berlama-lama lagi, kami menemukan dua kursi kosong yang tersisa, benar saja itu kursi kami. Finally we got it! Bagaimana tak senang, mata yang mengantuk sudah tak lagi bisa menahan. Duduklah kami, melepas sepatu yang mengikat jari-jari mungil, menyandarkan bahu pada tubuhnya yang menggigil, dan memejamkan mata yang sedari tadi memanggil-manggil. Kebetulan class kereta kami eksekutif, lumayan untuk melanjutkan tidur malam tadi ehehe.

Sekitar 3 jam perjalanan kami tempuh dengan didominasi oleh tidur-tidur manja mengisi energi untuk berjalan-jalan seharian nanti. Di sela-sela mata yang terpenjam, tentu ada mulut yang mengunyah, menyantap sarapan dengan biskuit dan susu yang kami bawa sebagai perbekalan. Hingga sampailah kami di Stasiun Bandung.

Sebelum kaki ini bisa menapak di Kota kembang, banyak scene yang sepertinya seru untuk dibocorkan sedikit kepada teman jalan-jalan. Dimulai dari scene kehabisan tiket di atas, mari masuk ke scene kehabisan sewa motor di Bandung. Yak, pantas saja, kami mengakui sih bahwa kami terlalu larut dalam “yaudahlah besok aja, gimana nanti, gausah buru-buru” ehehe H-2 mencari rental motor yang notabene digunakan untuk libur panjang di Kota Bandung? Tidak mungkin. Karena semua sudah habis ludes tak bersisa. Kenapa sih gak rental mobil aja? Hellow… motor aja kena macet apalagi mobil, udah gitu libur panjang, sudah bisa dipastikan bahwa gak akan bergerak. Ku tak mau  liburanku dihabiskan bersama kemacetan. So guys, be prepared!

Lucky us, ku punya teman baik yang mendapat penempatan kerja di Bandung dan posisinya si dia ini juga berencana untuk liburan di Jakarta. Jadilah kami switch dan aku meminjam motornya yang ditinggal di Stasiun. Lega, liburanku aman.

Back to the topic, saat sampai di Stasiun, kami langsung menuju ke lapangan parkir untuk mencari si motor titipan temanku itu. Dan ternyata tak mudah bung, pihak penjaga parkir tidak mengizinkan kami mengambil motor itu karena tidak ada karcis parkirnya, lagi-lagi miss komunikasi. Tapi, don’t worry be happy, ada si mas yang selalu memberi solusi dengan pasti, hm seperti kenal jargon salah satu eselon IV di Kantorku. Setelah diusahakan, keluarlah motor tersebut dan berjalan-jalanlah kami mengelilingi Kota Bandung mencari sarapan.

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, namun seorang aku sudah lelah-lelah mengawali harinya. Rasanya sangat panjang, padahal perjalanan ini bahkan belum dimulai. Seperti yang terpampang pada judul di atas, yaitu “Like a Dream at Dago Dream Park”, seperti mimpi lah pokoknya bisa sampai di sini, meskipun memang belum sampai di tujuan utamanya ehehe. Pada intinya ku bersyukur we could through those hard times together *unch wkwkwk. Duh, sudah hampir 2 halamanku habis untuk menceritakan behind the scene dan prolog.

So, let’s begin the journey. Tujuan pertama kami yaitu mengisi perut yang sudah lapar meronta-ronta. Kali ini ku dapat rekomendasi tempat sarapan enak dari temanku, yaitu Soto Sedap Boyolali. Lokasinya cukup dekat dari Stasiun Bandung dan letaknya cukup strategis mengingat berada di pinggir jalan dengan banner nama usaha yang cukup besar. Untuk rasa tak perlu diragukan lagi, menurutku, apalagi si mas yang hobinya makan soto, Soto Sedap Boyolali cukup menggugah selera makan, belum lagi kalau makannya di pagi hari dengan cuaca Bandung yang berhawa dingin. Jadi jangan heran kalau Soto Sedap Boyolali selalu ramai pengunjung, belum lagi live music yang menemani waktu makan menambah nikmatnya kesegaran kuah soto. Satu lagi, untuk harganya termasuk standar, tak terbilang mahal dan tak terlalu murah dengan rasa yang endes. Worth to try!

Next, langsung saja kami menuju tempat wisata yang ada di Kota Bandung, dengan jalan yang cukup ramai hampir macet. Sepertinya one day-trip tidak sesuai dengan tujuan wisata yang ada jauh di sana. Jadi, kami putuskan untuk menuju Dago Dream Park yang berada di daerah Lembang. Cukup jauh, namun lumayan bisa dijangkau dengan berkendara sepeda motor. Sesampainya di Dago Dream Park, kami disuguhi dengan pemandangan ramai oleh kebahagiaan keluarga-keluarga yang sedang berwisata. Cuaca saat itu terik, namun tetap khas dengan hawa dingin daerah dataran tinggi. Kami berjalan-jalan menikmati wahana-wahana yang ada sembari menentukan pilihan.

Terdapat banyak wahana yang disediakan oleh penyelenggara Dago Dream Park, mulai dari wahana ramah anak, wahana air, wahana edukasi, sampai wahana yang ekstrem namun tetap menarik seperti flying fox, ATV, dan labirin menanjak yang diberi nama Lost in Paradise. Setiap wahana yang ada dikenakan biaya, karena harga tiket masuk Dago Dream Park hanya sekitar IDR 15.000 per orang. Seingatku biaya masuk tiap wahana hanya dalam range sekitar IDR 15.000 to IDR 50.000 which is worth to try *gaya anak Jaksel wkwkwk.

Tidak banyak wahana ku coba di sana, mengingat jalan yang jauh tak sanggup ku tempuh dengan berjalan. Sebenarnya ada pilihan untuk naik bis wisata yang telah disediakan, tentu dengan membayar tiket wahananya. Tapi tak ku pilih karena lebih asik menikmati pemandangan dengan berjalan kaki, apalagi sama si dia ehehe. Tapi, semua itu pilihan kok.

Wahana pertama yang ku coba yaitu, toilet ehehe. Tenang teman jalan-jalan, Dago Dream Park memang cukup menyediakan fasilitas yang juga ciamik mengingat hawa dinginnya dataran tinggi pasti jadi hobi kebelet deh. Ok serius ya guys, pertama ku pergi ke Anti Gravity, who knows? Sebuah bangunan rumah tinggal yang terisolasi dengan aksen terbalik di setiap sudutnya. Sedikit unik karena ini bukan typical rumah yang modern, namun penuh dengan kesan kuno. Tapi jangan khawatir karena kesederhanaannya tetap dapat menghasilkan foto yang ciamik sekaligus unik. Tak kalah, jalan menuju Anti Gravity juga menarik lho untuk dijadikan spot foto.

Next destination, kita berjalan menuju Lost in Paradise. Karena matahari sudah menunjukkan taringnya tepat satu jengkal di atas Kota Bandung, Lost in Paradise sekaligus menjadi last destination-ku di Dago Dream Park. Labirin menanjak itu dibandrol dengan harga IDR 25,000 per orang. Naiklah kami ke sana dan mencoba mencari ujung dari jalan itu, tidak ada. Terdapat macam-macam spot foto yang menarik perhatian kami, dimulai dari pemandangan hijau oleh yang hamparan pohon pinus yang begitu natural, lalu banyak spot foto yang berbeda-beda pula temanya, seperti payung warna-warni yang menggantung, sepeda terbang, kapal alien yang terdampar, silangan-silangan kayu dari dahan pohon bagaikan gerbang, dan lain-lain.

Setelah puas menjajaki setiap sudut jalan menanjak, kaki-kaki yang lelah ini mengerti bahwa ada perut yang minta diisi. Tak perlu jauh keluar dari Dago Dream Park, persis di seberang terdapat cafe sekaligus art space dengan pemandangan Bandung yang elok pula, Lawangwangi Creative Space. Di lantai dasar terdapat pameran karya seni, baru di lantai dua tersuguh cafe modern dengan suasana western. Suasananya nyaman, instagram-able tentunya, namun karena berdinding kaca jika siang sampai sore memang terasa sekali paparan sinar mataharinya. Soal makanan teman jalan-jalan tak perlu ragu karena dijamin enak, setidaknya sebanding dengan harganya. Meski harus merogoh kocek sedikit lebih dalam, tak perlu khawatir kecewa ya. Cafe ini cukup ramai pengunjung pada jam makan apalagi saat weekend atau hari libur lainnya.

Sudah mulai sore dan jalanan penuh kendaraan, kami putuskan untuk pulang ke Kota dan mencari sedikit buah tangan untuk yang tersayang dirumah, selain yang bareng di sini ya hihihi. Seperti masyarakat awam, tujuan kami yaitu Pusat Oleh-oleh Kartika Sari. Selain dekat dengan Stasiun, ini juga merupakan khasnya jika bertandang ke Kota Bandung. Sudah puas berbelanja cemal-cemil, kami lanjut ke icon hits di Kota Bandung, apa lagi kalau bukan Masjid Raya Kota Bandung? Yippi! Senja kala itu kami lalui dengan duduk-duduk bersantai di Halaman Masjid Raya yang luas dengan rumput sintetik serta keramahtamahan warga Bandung. Penat kami tertuang dan lenyap ketika melihat anak-anak bermain bola, bercengkrama, tertawa bahagia dengan kesederhanaan ini. Namun di luar, jalanan tetap ramai, apalagi di tikungan Jalan Asia Afrika.

Sayang, ku tak bisa mencicipi beribadah di Masjid tersebut, teman jalan-jalan kalau ke sini sempatkan mencoba ya! Harapku semoga ku bisa kembali lagi. Setelah itu, kami sibuk mencari referensi makan malam. Jatuh pada makanan khas Bandung, yaitu Batagor, bakso tahu goreng lengkapnya. Yang disayangkan lagi, ternyata Batagor Riri tutup, huh padahal sudah sangat ngidam *eh wkwkwk. Lalu, cari lagi tempat lain sampai di resto mie kocok, salah satu makanan khas lainnya. Ini kali pertamaku mencobanya, tak begitu manja lidahku dibuatnya. Hanya hangat dan cocok untuk suasana malam di Kota Bandung.

Selesai sudah perjalanan panjang kami di Bandung. Pukul 21.00 kami dijemput kereta kembali menuju Ibukota. Satu hari yang sangat berkesan, hingga menghabiskan hampir 4 halaman penuh Ms. Word ehehe. Tak kapok, aku akan kembali. Kami akan kembali. Mungkin tak lagi ke sana, karena teman jalan-jalan pasti tau kalau Bandung punya seribu wisata menarik mata dan hati. Pesanku, kemanapun, siapkan segala sesuatunya dengan baik. Jika tidak, kamu tetap bisa menikmatinya kok.

Banyak jalan menuju Roma, eh Bandung!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here