Home Perjalanan Umbul Sidomukti, milik Semarang bukan Bali

Umbul Sidomukti, milik Semarang bukan Bali

345
6
SHARE
ARTICLE TOP AD

Hawa dingin bersama tangan menggigil dan telinga bising menjadi oleh-oleh wisata Umbul Sidomukti. Tak payah sendiri menyepi menghadapi dingin mengiringi, karena saya datang berdua, bahkan beramai-ramai. Jadi, tak perlu kedinginan karena ada si dia *eh wkwkwk. Sebenarnya, di luar hal itu, Umbul Sidomukti tetap indah tak peduli siapa dan sebanyak apa orang melihat dan menikmatinya.

Ibarat hasil tak akan mengkhianati usaha, untuk mencapainya memerlukan waktu dan usaha cukup panjang dan sedikit lebih berat. Pasalnya, track yang terjal nan sempit menghiasi perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 1 jam menanjak menggunakan transportasi roda empat. Tapi tenang, karena semua sirna seketika melihat hamparan Kota Semarang serta beberapa gunung terdekat yang rasanya seperti mendekap.

Banyak tempat wisata yang terletak di daerah Umbul Sidomukti. Seperti pemandian air panas, wisata kuliner baik restaurant maupun cafe. Adapun penginapan yang tersedia di lokasi tersebut. Selain itu, terdapat pula taman-taman untuk hiburan anak, perkebunan, dan penangkaran hewan. Terdapat banyak pilihan yang dapat ditentukan untuk mengisi waktu liburan bersama keluarga. Atau sekedar untuk mengisi waktu luang sendiri, suasana di Umbul Sidomukti terbilang cukup menenangkan.

Kebetulan, pertama kali menyentuh Umbul Sidomukti, ku bersama teman-temanku, hanya sekedar menikmati senja yang berkabut, dan secangkir kopi panas yang ditemani hangatnya momen tawa dan canda. Petang menuju malam kami menyibukan diri mencari kehangatan, karena memang cuaca dataran tinggi yang benar-benar berangin dan bersuhu rendah.

Hamparan luas terbentang menjadi ladang mengambil gambar, foto sana, foto sini, menjadi hobi. Habis tak ada lagi yang bisa dijadikan oleh-oleh selain hasil potret kebahagiaan berlibur. Maklum, pegawai Negeri susah liburnya *sombong *padahal masih calon wkwkwk. Lagipula ini hanya sebuah “sambil menyelam minum air”. Karena tujuan utamanya memang bukan untuk liburan, biasa lah, kondangan, disambi menunggu dikondangin ehehe.

Jadi, kami berangkat dari Jakarta menggunakan transportasi Kereta Api pada Jumat malam dan tiba di Kota Semarang di Sabtu pagi. Kebetulan, acara undangan kami berlokasi di Kota Salatiga pada Sabtu siang. Sampai di Semarang, kami mencari sarapan, dan destinasi kami jatuh pada rekomendasi supir elf yang kami sewa, yaitu Kedai Soto Ayam yang tak kami sebutkan merk dagangnya. Kenapa? Karena dari sisi rasa yang biasa saja, bahkan lebih enak yang ada di Tangerang *menurut saya wkwk. Selain itu, harga yang terbilang cukup mahal dan tak sebanding dengan rasa juga membuat kami tak merekomendasikannya kepada teman jalan-jalan.

Setelah perut kenyang, hati riang namun kantong ngajak perang, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Salatiga. Karena perjalanan kali ini merupakan one day trip, so we don’t book any room to stay overnight. Perjalanan menuju Kota Salatiga dari Kota Semarang memakan waktu kira-kira sampai 3 jam dengan kesempatan mampir di rest area ehehe maklum kalo mau kondangan harus dandan cyin

Saat itu, kami menghadiri undangan abang kami, yang berbahagia Abang Rifaldi bersama sang kakak yang kala itu berdampingan dengan anggun bersama gaun putihnya. Sangat bahagia melihat megahnya pesta pernikahan, yang penuh cinta, penuh suka cita membuncah melimpah ruah. Sesi foto tentu selalu menjadi akhir pertemuan, begitu pula dengan kami. Setelah puas berfoto bersama pengantin baru, kami membagi dua tim untuk menjelajahi Kota Semarang dan sekitarnya. Ada yang menuju Umbul Sidomukti, adapun yang menuju Tempat Wisata Eling Bening. Dan aku memutuskan untuk menuju Umbul Sidomukti, bukan karena Eling Bening tak menarik, namun bukankah baiknya makmum mengikuti imamnya? Ehehe.

Back to main topic, sampailah aku pada Wisata Umbul Sidomukti dengan mengarungi cuaca dingin dan jalan yang terjal seperti dijelaskan di atas tentunya. Karena saat kami tiba matahari juga sudah tiba di penghujung hari, kami memutuskan untuk menikmatinya dengan menyantap sajian makanan sekaligus menghangatkan badan. Sekarang saatnya membahas judul dari tulisanku ini, kenapa? Kok gitu? Jadi saat ku memutuskan untuk berbagi keindahan Umbul Sidomukti dengan para pengguna instastory, seorang bertanya dan menyangka-nyangka bahwa itu di Bali. Karena ku tak pernah ke Bali *hiks jadi dengan polosnya ku jawab bahwa itu bukan di Bali. Sedikit heran mungkin, ku jelaskan bahwa itu Semarang punya. Hanya penjelasan, Umbul Sidomukti ini di Kota Semarang ya gaes, bukan di Bali, ehehe.

Ku coba ingat kembali, terlintas jelas, suasanya sendu, kemudian ku terhanyut, dan tak seorangpun bisa merayu. Benar-benar menenangkan, mataku yang melihat banyak hijau terhampar, telingaku yang mendengung kedinginan dengan suara angin yang berhempasan, juga hatiku yang damai menikmati kebersamaan. Hingga akhirnya malam datang, kami memutuskan kembali. Kembali menikmati penatnya tetangga Ibukota, sampai bertemu di Jakarta.

Kami pulang lagi-lagi dengan transportasi Kereta Api, senang rasanya bisa mengisi waktu yang singkat ini. Tengah malam, kami berangkat menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Sesampainya di Jakarta, menuju ke Tangerang, mari menghadapi kembali hidup yang sebenarnya, dengan rutinitas yang pada umumnya.

Semoga kami bisa kembali.

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here