Home Acara SAMAPTA BEA CUKAI

SAMAPTA BEA CUKAI

252
4
SHARE
ARTICLE TOP AD

[WARNING : LOOONG ARTICLE]

[WARNING : JUST A STORY, NOT INCLUDING CLUES]

Kenapa?

Kenapa samapta?

Ada apa di samapta bea cukai?

Emang samapta bea cukai itu jalan-jalan?

Well, banyak orang awam asing dengan kata-kata ini. Tapi tentu tidak dengan calonnya calon pegawai bea cukai seperti saya. [Menurut saya] samapta adalah masa transformasi dimana manusia lemah menjadi lebih kuat dan manusa kuat menjadi makin hebat. Fyi, samapta adalah pendidikan dan pelatihan wajib bagi seluruh pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ngapain aja kegiatannya? Let’s scroll it up!

Pertama, sebelum kepo sama kegiatannya, kita bongkar lokasinya dulu ya. Samapta diselenggarakan di Pusdiklat Bea dan Cukai dan beberapa Balai Diklat Keuangan yang tersebar di beberapa titik di wilayah Indonesia. Dan saya ditetapkan bersama 89 siswa lainnya untuk berkawah candra di muka di Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun. Selama 5 minggu, siswa dan siswi samapta dididik dan ditempa oleh Pelatih Perkasa. Hmm menarik bukan. Pelatih yang membimbing dan membina kami tidak lain dan tidak bukan merupakan anggota aktif Kopassus dan/atau Paskas. Eits, don’t worry be happy ya guys.

24 jam dalam 7 hari di satu minggu dikalikan 5 memang bukan waktu yang singkat. Dan di bukan waktu yang singkat itu lah pertemuan hanya menyajikan seonggok siswa tanpa daya bersama pelatih-pelatih hebat. Puitis, romantis, namun tragis. Tidak ada kata selain “Siap salah” dan “Kerjakan” yang dapat terlontar tertatih-tatih bersama gerakan gesit nan melejit ketika instruksi datang tiba-tiba.

Samapta mengajarkan banyak hal, memberikan banyak pengalaman, dan tentu menimbun banyak kenangan yang berbuah rindu di masa mendatang. Tidak untuk disombongkan, namun berbanggalah karena disaat orang lain seusiamu dapat tidur 8 jam sehari dan makan 3 kali sehari dengan waktu ngemeal tidak tentu bisa sekali, kamu, saya, kami, dapat 3 atau 4 jam tidur sehari dan 3 kali makan porsi 4 sehat 5 sempurna ++ dengan 3 kali waktu ngemeal porsi berat. Itu sangat membahagiakan bukan? Ya, apalagi kalau bukan karena gratis? Bukan gratis, Negara yang membayar hehe.

Samapta merupakan [salah satu] 5 minggu terberat dalam hidupku. Orientasi siswa semasa SMK bersama TNI AU dahulu terlewati, ujian-ujian kenaikan tingkat sabuk untuk pesilat juga terlewati, 3 bulan pelatihan capaska tingkat Kota pun terlewati, dan yang terakhir 3 bulan leadership training bersama senior di kampus mulus terlewati.

Samapta memang mempunyai cerita tersendiri. Hati dan fikiran penuh beban, ditambah beban pada tubuh berupa pasir [yang biasa disebut anak] 3 kg untuk siswi dan 5 kg untuk siswa menghinggapi pundak siang dan malam 5 minggu lamanya. Bukan tanpa sebab, karena di kantor atau lapangan nanti, bahkan beban kerja yang bukan lagi hitungan kilogram menunggu untuk diemban. Jangan takut, anak itu bukan anak yatim. Hadirlah sesosok suami bagi siswi dan isteri bagi siswa yang tak kenal lelah mendampingi dalam genggaman, senjata Valmet seberat kurang lebih 3,5 kg.

Ya, itulah duniamu, tanpa memiliki siapapun untuk mengadu [kecuali teman satu angkatan dan pelatih yang mungkin tak terlalu mau tau kecuali kamu siap diguling HAHA]. Kenapa semenyedihkan itu? Karena semua alat komunikasimu disita. Kamu tak akan pernah tau bahwa kamu melewatkan banyak berita dan cerita. Tentang kakakmu yang sibuk mempersiapkan pernikahan, influencer favoritmu yang akhirnya menikah, ulang tahun sahabatmu, bahkan pengumuman penempatan definitif beserta meluncurnya NIP yang ditunggu-tunggu. Kemudian tentang film Dilan yang release dan music chart yang biasanya menemani harimu pun luput dari jangkauan. Hidupmu senyap, hampa tak berirama dan yang terjadi hanya monolog bersama nuranimu.

Jump to the main topic, kegiatan selama samapta itu sangat beragam dan tentu ampuh melupakan penatmu kehilangan alat komunikasi tercinta. Minggu pertama, tak akan lagi ada yang terlintas difikiranmu kecuali pembersihan. Bahkan overthinkingmu kalau pacarmu selingkuh ditinggal 5 minggu samapta seketika sirna. Kamu akan merasakan tidur beralaskan tanah makam, di bawah langit-langit selasar aula, di tribun penonton, dan di tempat-tempat yang mungkin tak pernah terlintas dalam fikiran.

“Lari, guling, push up dan sit up, jalan jongkok kemudian merayap”

Ya, tak akan pernah siswa samapta saat minggu penyegaran [minggu pertama samapta atau biasa disebut minggar] luput dari beberapa lirik lagu di atas. Haram hukumnya siswa samapta berbaju PDL kering saat minggar. Lari bersepatu PDL juga sungguh menyiksa. Push up dan sit up sudah biasa. Jalan jongkok dan merayap yang termasuk merayap dada dan merayap punggung pun menjadi rutinitas.

“Kolam sukun dan sungai gangga”

Tidak ada siswa samapta yang asing dengan lirik di atas. Lokasi pengguguran dosa. Di kolam sukun jam 12 sama saja, tak ada siang, tak ada malam. Saat instruksi terlontar, menyelam lah kita, habis, tak tersisa. Tak berbeda dengan sungai gangga yang alirannya sampai ke India sana [katanya], berguling lah kita bersama sisa-sisa kehidupan manusia yang entah siapa pemiliknya. Tak usah dibayangkan, atau menyesal kelak HAHA.

Minggu penyegaran tentu paling menakutkan. Tidur tak nyenyak, makan banyak dengan hitungan, tidak mandi seutuhnya, tak usah lah dibicarakan lagi. Apalagi alarm stealing dini hari, tak lagi mampu kuhitung. Nikmat. Sungguh nikmat dapat segera menyelesaikannya. Meskipun sekian banyak hari masih mengantri di depan untuk dilalui.

Di samapta kami dapat materi pembelajaran yang cukup penting. Materi pertama dimulai dari latihan baris-berbaris. Setiap hari, tak kenal pagi, siang, sore, ataupun malam. Tak peduli dengan atau tanpa senjata. Dan tak berpengaruh pula apakah hari itu hujan ataukah panas. Jangan pernah berharap akan luput darinya.

“Hujan, panas, malam selalu setia, itulah sahabat kita”

Feeling so military, “Ini bukan lagi latihan bela Negara, dan ini bukan lagi semi militer, tapi 2/3 militer.” Ucap Komandan Tim Pelatih kami kala itu menyemangati. Kami berlatih menembak, bermain dengan senjata, bukanlah hal yang sepele. Takut, khawatir, dan rasa enggan menyelinap dalam diri saat pertama kali menyentuh benda asing itu. Semua pelatih berteriak agar kami waspada dan berhati-hati.

Lalu, kami diajari menuntun helikopter, menerbangkan dan mendaratkannya. Jangan berkhayal menggunakan helikopter sungguhan ya hihihi. Kemudian kami menerima materi navigasi darat. Bagaimana menggunakan kompas di siang dan malam hari, bagaimana menentukan titik koordinat di peta, dan lain-lain. Ayo makanya samapta!

Selain materi-materi praktik, kami juga diberikan teori-teori. Emang butuh ya? Jelas butuh dong, kan samapta juga ada ujiannya. Tapi tak perlu khawatir, karena lebih baik belajar daripada hanya diam dan mengkhawatirkannya hahaha. Terdapat pula materi Tata Upacara Militer, Peraturan Penghormatan Militer, Peraturan Urusan Dinas Dalam, dan lain-lain. Semua itu diterapkan selama samapta berlangsung. Setiap hari Senin kami melaksanakan upacara, setiap bertemu senior atau atasan kami melaksanakan penghormatan, serta tak luput bagi PKD dan lain-lain. Setiap melaksanakan kegiatan, selama di Pusdiklat Bea dan Cukai, dari bangun tidur sampai tidur kembali, kami menerapkan segala yang tertuang dalam Peraturan Urusan Dinas Dalam.

“Bangun pagi senamnya jam 4, lari siang, kita terus makan, inilah kisah samapta BC”

Ya, kegiatan mulai pukul 04.00 WIB dengan agenda senam pagi. Jangan sedih, langit Pusdiklat Bea dan Cukai masih berbintang kok jam segitu hehe. Lalu pembersihan, makan pagi secepat kilat, dan persiapan apel pagi. Secara garis besar begitulah rupa keseharian kami di pagi hari. Kemudian, dilanjut lari pagi, bisa di Lapangan Hitam Pusdiklat Bea dan Cukai, bisa juga di luar area Pusdiklat Bea dan Cukai. Bisa dengan seragam lengkap dengan ransel dan senjata, bisa juga hanya bermodalkan baju PDL yang melekat di tubuh, namun lagi lagi jangan banyak berharap.

Di sini saya hanya notice pada hal-hal yang menurut saya menarik untuk diceritakan. Tidak akan sedetail seperti yang diharapkan pembaca. Atau mungkin sudah terlalu banyak? Hahaha iya. Siang hari jadwalnya lari siang kemudian makan. Atau mungkin ada penambahan senam senjata dengan jaket kulit? Entah hanya Tuhan dan Pelatih yang mengetahuinya. Apapun agendanya, siswa samapta siap. Mungkin bukan benar siap, namun harus siap.

Sore hari kami habiskan dengan lari sore dan yel-yel yang banyaknya bisa sampai dua album hehehe lebay ya. Itulah siswa samapta, kerjaannya hanya lari dan yel-yel saja, kalau kata orang. Tibalah saat makan malam dan kegiatan malam [selalu saja makan yang diingat]. Setelah kegiatan malam berakhir, menuju tidur, lari malam dahulu, karena Pelatih takut kami alergi kalau tidak lari. Yang ditunggu-tunggu, setelah lari ada snack malam yang entah menunya bubur apa, kemudian istirahat dan menunggu alarm stealing wkwkwk. Begitulah kurang lebih keseharian kami siswa samapta selama 5 minggu di Pusdiklat Bea dan Cukai.

Di waktu-waktu yang tak bisa kusebutkan satu per satu, di situlah materi pembelajaran dilayangkan. Baik materi yang sangat teoritis, maupun materi-materi praktik, atau bahkan latihan fisik yang berkedok hukuman-hukuman ringan sampai yang berat.

Tapi, jangan salah paham dulu ya! Karena tidak semua latihan fisik yang diinstruksikan kepada kami merupakan hukuman. Pelatih hanya akan menghukum kami kalau kami melakukan kesalahan [yang pada hakikatnya siswa samapta selalu salah] wkwkwk. Benar adanya di samapta ini latihan fisik yang tujuannya membina fisik kita agar setelah keluar dari diklat ini, kita siap dan tubuh kita prima. Karena “pegawai bea cukai itu sehat saja tidak cukup, tapi harus prima” begitulah kira-kira yang ku ingat dari salah satu Pelatih favorit siswi samapta [terkecuali aku]. Namun ada pula kegiatan-kegiatan fisik lain selain olahraga dan pembinaan fisik yang merupakan bentuk permohonan ampun kami atas kesalahan yang kami perbuat, seperti duduk senjata, angkat senjata laras di bawah [yang diingat selalu senjata huh] dan kejutan-kejutan lainnya. Hehehe jangan penasaran ya!

“Sunan giri sampai ke Ciampea”

Saatnya tamasya!

Yup, seperti lirik di atas, kami kemudian bertamasya ke Ciampea di minggu-minggu akhir untuk latihan berganda. Dengan acara mendorong bis di tengah perjalanan beserta perlengkapan lengkap dan ransel penuh yang hampir meledak, kami tak sabar untuk sampai ke lokasi. Sesampainya, kami ditembaki, berkelana di tengah hutan, kemudian sampai dan bertenda, serta persiapan kegiatan. Bagian tersulit, jarak menjangkau tempat ibadah dan pembersihan membutuhkan tenaga lebih untuk turun bukit berbatu. Tapi bagian terindah, langit Ciampea selalu dipenuhi bintang. Rasi bintang Orion kata seseorang padaku sambil berlalu namun masih ku ingat parasnya [wajah letih siswa samapta] wkwkwk. Jaga tenda terasa ramai dan lagi kami tidak dilarang untuk jajan [tidak seperti di Pusdiklat Bea dan Cukai yang untuk membeli martabak saja dibayar dengan duduk senjata dan masuk kolam sukun tengah malam] hehehe. Di Ciampea, bersama Indomie dan kopi hangat, lengkap sudah.

Kami survive di sana, melakukan apapun layaknya sedang berada di medan perang. Mendaki gunung dan melewati lembah kalau kata Ninja Hatori. Menembak dengan senapan laras panjang dan laras pendek sungguhan, membidik basah sasaran tembak, dan suara tembakan “tam tam” berubah menjadi “dor dor”. Sebanyak seribu lebih munisi bertebaran di lapangan tembak menyusuri sasaran yang berbaris rapi di depan kami.

Belum lagi kegiatan navigasi darat dan menuntun helikopter seperti yang pernah diteorikan sebelumnya harus dilalui. Dan yang tidak kalah menegangkan yaitu kegiatan jurit malam. Kegiatan penyampaian informasi rahasia dengan melewati berbagai macam halangan dan rintangan menyusuri malam yang gelap, seorang diri. Dengan penuh tekanan, saya memberanikan diri menjadi yang pertama melangkah menyusurinya. Gelap, sunyi, dan terasa sangat jauh seakan-akan tidak berujung. Namun pada akhirnya, Alhamdulillah kami dapat menyelesaikannya dengan selamat.

“Saya siap menjaga nama baik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai”

Malam terakhir di Ciampea, waktu menikmati quality time bersama keluarga, keluarga samapta bea cukai angkatan I tahun 2018. Dengan diiringi lantunan lagu-lagu wajib nasional penuh hikmat, kami menyelesaikan perjalanan nan panjang itu. Tawa, canda, ria bersama terlontar indah dari setiap gumaman bibir kami saat menampilkan yel-yel kebanggan angkatan kami. Bersama padamnya api unggun dan rasa kekeluargaan yang memperkokoh jiwa korsa antar kami, memperhangat dinginnya malam Ciampea.

Esoknya kami kembali. Kembali menempuh sisa-sisa hari berat dengan bahagia karena hanya latihan untuk demonstrasi yang menanti. Meskipun sesekali Pelatih rindu melihat kami senam senjata, yah begitulah, tidak ada yang tau bagaimana kemudian. Kuncinya hanya jangan terlalu berharap kalau tidak ingin merasa kecewa [eh wkwkwk].

Hingga tiba saatnya demonstrasi, kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan mantap. Mulai dari baju PDL yang terbaik [tentu yang belum masuk kolam sukun] hihihi. Kemudian begitu pula dengan sepatu PDL, yang mengkilap mengalahkan rasi bintang di Ciampea [hahaha lebay]. Dan yang tidak kalah penting yaitu pe-nya-ma-ran. Semua siswa dan siswi samapta melakukan penyamaran, hilang sudah tingkat aesthetic parasnya, yang tersisa hanya wajah garang dengan tatap mata yang tajam serta sikap penuh wibawa dan semangat berkobar di dada [hihihi iya benar itu lirik lagu].

Dengan penuh keyakinan, kami tampil dan mempersembahkan hasil kerja keras kami yang terbaik selama 5 minggu berkecimpung di dunia persamaptaan. Lapangan hitam bergetar oleh hentakan kaki pasukan baris-berbaris indah. Suara tembakan dan gerakan-gerakan tegas senjata terdengar seirama keras dan meriahnya berasal dari anggota kolone senjata. Dan yang terakhir sebagai penutup kegiatan samapta kami dan artikel panjang ini, persembahan dibawakan tim karate yang pukulan dan tendangannya mengguncang Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun. Pecahan-pecahan benda keras seperti besi, batako, gorong-gorong, sampai es balok berserakan melengkapi euphoria kebebasan kami. Belum lagi, lompatan harimau dengan gemericik api memberikan efek suasana yang semakin menegang.

Diakhiri dengan upacara penutupan oleh yang terhormat Bapak Oentarto Wibowo, kami secara resmi mengakhirinya. Benar-benar mengakhirinya. Terharu, sendu, rindu tentu bergejolak dalam hati yang bermuara di pelupuk mata. Senang rasanya akan kembali ke kehidupan manusia normal, namun berat hati meninggalkan teman-teman, kakak, dan abang yang senantiasa menguatkan dan menyemangati. Belum lagi para Pelatih yang dengan sabar membina fisik dan mental kami menjadi sosok yang selalu siap sedia membangun Negara nusa bangsa [siap benar lirik lagu].

“Disetiap pertemuan, akan selalu ada perpisahan”

Memang berpisah jarak dan waktu. Sebagian kami di Kantor Pusat dan sebagian lainnya tersebar antara Sabang dan Merauke. Ada yang di Barat Indonesia, juga di Timur Indonesia. Ada yang di tengah kota, ada pula yang di perbatasan Negara tetangga. Namun kami tetaplah kami, Keluarga Samapta Bea Cukai Angkatan I Tahun 2018.

“Dimana kami berada, Merah Putih selalu di dada.”

 

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here