/Menapaki Kerasnya Jalur Gunung Cikuray

Menapaki Kerasnya Jalur Gunung Cikuray

Buat lo yang suka jalan. Jalan-jalan kali ini akan membahas tentang Gunung CIkuray. Pengalaman pertama kali yang dialami oleh penulis, he2. Yap Gunung Cikuray adalah gunung yang pertama kali didaki penulis. Secara dulu tempat nongkrong penulis adalah salah satu basecamp penikmat alam (Penikmat Hijau Bumi). Dulu hampir sebulan sekali tepatnya Jum’at malam atau malam sabtu biasanya di Bale (basecamp) selalu ramai oleh para penikmat alam bebas. Bebeerapa kali penulis diajak naik bareng tapi selalu menolak.

Nah pada suatu malam penulis iseng lagi nyamperin para penikmat alam yang lagi pada packing. Dan untuk kesekian kalinya penulis diajak naik bareng dan kesekian kalinya penulis menolak 😀 . “Nih gue kasih unjuk foto-foto di Gunung”, salah satu penikmat alam tiba-tiba menunjukkan beberapa foto di beberapa Gunung yang pernah dia daki.

Satu-persatu foto ditunjukkan, penulispun tak berkedip dan berdecak kagum melihat pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Penulis berbisik didalam hati “fotonya aja bagus kayak gini, apalagi aslinya?”. Dan malam itupun sejarah terukir bagi penulis sebagai malam yang sangat berkesan karena besoknya akan mendaki gunung bersama para penikmat alam bebas yang sudah banyak pengalaman dibandingkan penulis. Begitu rekan-rekan yang lain tahu penulis ikut, merekapun antusias dan senang.

Salah satu penikmat alam ada yang mengajarkan beberapa cara/tekhnik dalam menikmati alam bebas. Mulai dari packing keril, mengangkat keril dan banyak tekhnik lainnya. Karena penulis yang memang belum pernah mandaki gunung. Sudah dipastikan tak satupun alat dimiliki penulis wkwkwkwkwk.. 😀 .

Serba minjam  dan alhamdulillah rekan-rekan tak sungkan meminjamkan peralatan mereka. Ada banyak peralatan yang dipinjam penulis dan banyak juga yang berbaik hati meminjamkan. Malam itu waktunya packing jadi banyak hal yang penulis pelajari dan persiapkan karena gunung yang akan didaki tidak memiliki sumber air di sekitar puncaknya.

Gunung Cikuray atau Cikurai adalah sebuah gunung bertipe Stratovolcano yang terletak di Dayeuhmanggung, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikuray yang mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut ini tidak mempunyai kawah aktif dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, Gunung Pangrango dan Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuhmanggung. Iklim di daerah Gunung Cikuray dan sekitarnya dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate). Curah hujan di sekitar Gunung Cikuray mencapai 3500-4000mm dengan kalkulasi bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan dan juga variasi temperatur dari 10º C hingga 24º C. (sumber: wikipedia)

Benar sekali gunung yang pertama kali akan didaki penulis adalah Gunung Cikuray. Cussss… jalan ke Gunung Cikuray 😀 . Kami memulai perjalanan pada jum’at malam. Berangkat dari Ulujami menuju ke terminal Kampung Rambutan. Sesampainya terminal banyak para penikmat alam bebas sudah berjejer lengkap dengan bawaan mereka. Karena kami berangkat luamayan rame maka kami berinisiatif mengajak pendaki lain yang memiliki tujuan yang sama jadi nantinya kami sewa 1 bus dengan maksud ongkos bisa goyang hahahay.. 😀 .

Hore.. kami bertemu dengan beberapa pendaki yang memiliki tujuan yang sama yaitu terminal Guntur (Garut). Dapat teman baru merupakan keharusan bagi saya. Karena makin banyak teman makin banyak tempat untuk numpang makan wkwkwk 😀 .

Perjalanan dari terminal Kampung Rambutan ke terminal Guntur membutuhkan waktu 4-6 jam tergantung kondisi arus lalu lintas. Sampai di terminal Guntur pagi dan lanjut naik angkot atau mobil colt yang langsung bertanya tujuan kami. Tidak susah mencari kendaraan menuju pos pendaftaran (Pemancar) Gunung Cikuray karena para sopir angkutan umum langsung menghampiri anda 🙂 .

Tak terasa kami sampai di Pemancar. Langsung satu satu rekan kami menuju ke Pos pendaftaran untuk mengurus simaksi. Sambil beristirahat sebentar (makan dan ngopi). Pendakian dimulai pukul 09:00 WIB. Jalur pendakian lumayan terjal dan tidak ada jalur landai atau yang biasa disebut Bonus. Air harus dibawa dari bawah karena di jalur pendakian tidak akan kalian temui sumber mata air.

Baru pertama kali merasakan mendaki gunung, ternyata memang capek 😀 . Tapi capeknya harus dibuang jauh-jauh karena tujuan masih jauh yaitu puncak. Tapi yang paling ditekankan oleh teman-teman adalah pulang dengan selamat adalah tujuan kita pergi.

Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar beristirahat sambil minum dan terkadang jika terasa lapar, salah satu teman ada yang mengeluarkan kompor untuk makan dan minum air hangat (kopi/teh/susu).

Letih dan lelah tak begitu dirasa karena kita tidak sendirian. Banyak teman-teman menemani dan selalu memberikan semangat kepada pendaki pemula (penulis) ini 🙂 . Penulis dikasih target harus lekas sampai di puncak untuk mencari lapak mendirikan tenda. Penulis sampai di puncak sekitar pukul 16:20 WIB dan segera mencari tempat yang bagus dan diharapkan cukup untuk beberapa tenda. Yah.. walaupun tidak mendapatkan tempat yang luas tapi dirasa cukuplah untuk mendirikan 2-3 tenda. Disekitar tempat masih banyak rumput liat yang mengharuskan tim menebas dan meratakan tanah agar tenda tidak miring.

Rekan-rekan yang lain satu-persatu sampai di puncak. Dan langsung mengeluarkan peralatan termasuk tenda. Ini juga merupakan pengalaman pertama kali bagi penulis mendirikan tenda. Sambil belajar dari rekan yang sudah sering ikut kegiatan ini he2 🙂 .

Tenda berdiri, beberapa ada yang masuk ke tenda dan ada juga yang menikmati suasana puncak. Karena waktu kami sampai di puncak sore, tidak menunggu lama, mataharipun mulai terbenam. Ada yang tidur, makan, masak dan ada juga yang masih asik ngobrol.

ZZZZzzzzzz….. tidur di tenda itu enak jika digunung. Ya iyalah karena gak ada tempat tidur lain hahahaha… karena penulis belum langsung tidur, ada beberapa rekan yang sudah terlelap dengan masing-masing stylenya. Mendengkur, gerak sana-sini, gak bisa diem. 😀 ternyata begini rasanya kebersamaan sesama penikmat alam.

Terdengar suara mulai ramai di luar tenda ternyata pagi sudah mau menjelang. Dengan semangat membara penulis keluar dan mengabadikan beberapa moment. Ada salah satu pendaki yang mengomandoi kami untuk menyanyikan lagu Indoneisa Raya di puncak Cikuray. Dengan senang hati pendaki lain langsung mengikuti. Suara para penikmat alampun menggema mengumandakan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Setelah matahari terbit waktunya mengisi perut untuk persiapan turun. Waktu tempuh ketika turun lebih cepat diabandingkan saat naik. Ada yang ngomong jika berat badan sewaktu turun itu menjadi 3 kali lipat dibandingkan ketika mendaki.

Pengalaman yang benar-benar baru dirasakan penulis semuanya. Saat itulah awal mula penulis menyukai hiking.

Oraiiiitttt…
Itulah sepenggal kisah pertama kali penulis mendaki gunung. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Salam Lestari 🙂 .